Kampus Ini Sedang Diimunisasi

Di depan televisi, Saya dan beberapa orang keluarga, nonton berita. Mungkin sedang ngetren anak di bawah 17 tahun sudah jadi Mahasiswa. Jurusannya tidak main-main, Kedokteran, Teknik, dlsb di Universitas ternama. Di Televisi si ibu berbicara ‘Dulu anak saya sulit sekali ketika ingin melanjutkan sekolah ke jenjang di atasnya, terkendala peraturan usia yang ditetapkan pemerintah. Padahal walaupun usianya masih kecil, kemampuannya di atas anak-anak sebaya’.  Orang-orang yang menonton televisi mulai berkomentar, Saya hanya mengangguk-angguk  tanda menyetujui peraturan pemerintah. Toh perkembangan IQ tidak selalu berbanding lurus dengan EQ. Saya yang kuliahnya fokus kekanak-kanakan memang sering banget membahas milestones pekembangan anak mulai dari fisik, psikis, emosi. Ya, wajar saja pemerintah membuat peraturan batas usia. Kasihan saja, anak Usia kelas 1 SMA gaulnya sama anak usia semester satu kuliah *IMHO. Lalu orang-orang di sekitar saya mulai berceloteh ‘bego banget sih pemerintah, gitu sih Indonesia mah, Ya gimana bisa maju di negara ini, anak pintar dihalang-halangi sekolah, Pemerintah itu ya, bikin peraturan gak mikir, dan blablabla’. Saya cuma melongo dengar orang ngebego-begoin pemerintah, bilang yang bikin peraturan gak mikir, gak punya otak. What a…. Saya sih masih sabar di situ, saya tahu dan mereka gak tahu kalau sekolah itu bukan hanya tentang IQ, bukan hanya tentang bisa mengerjakan soal, tapi tentang segala aspek yang dibahas di Psikologi Perkembangan, di Pedologi, di DDTKA, di Psikologi Pendidikan, yang kalau dijabarkan gak cukup kuliah satu semester. Mereka gak tahu, mungkin yang merumuskan peraturan ini adalah Psikolog, praktisi pendidikan, konselor yang ilmunya jauh di atas mereka dan juga saya. Terus kita sok tahu gitu ngebego-begoin peraturan yang mereka bikin, merasa kita paling bisa dan tahu konsekuensinya?

Dari situ saya mikir, mungkin juga saya sering jadi bagian dari mereka yang kalau ada peraturan yang gak sreg langsung ngebego-begoin, bilang gak becus, gak mikir. Tanpa banyak baca, banyak tahu, klarifikasi. Duh, mungkin benar semakin kita awam, semakin kita banyak komentar.

cuti

Saya gak nyangka aja di usia Saya yang ke-20 lebih sekian, urusannya masih ecek-ecek. Gentayangan di kampus, gak jelas. Setelah kasus “Salah nulis” Berlarut-larut dengan kalimat “Ntar aja neng!”, “Besok aja neng”, “Bapak ininya gak ada!” semakin saya mengerti kenapa di kampus ini sering banget ada yang demo. Fyi, saya bukan anak organisasi ekstra manapun, dan saya juga bukan anak UKM atau UKK manapun, makanya dulu saya paling gak suka kalau ada yang demo di kampus, berisik, sok heroik banget saya bilang. Saking gak sukanya Saya pernah dikasih selebaran sama teteh yang lagi aksi, saya robek kertasnya di depan si teteh sambil melipir pergi, terus si tetehnya ngomel gak jelas. Haha.

Kampus ini sedang kacau.

Ibarat bayi, mungkin kampus ini sedang proses imunisasi. Baru diimunisasi biasanya si bayi sakit dahulu, kemudian dia tumbuh kuat. Pergantian Rektor tahun kemarin menyebabkan perubahan besar-besaran. Sistem dari manual, menuju online. Peraturan lainnya diperketat, tapi masih galau. Dalam satu bulan muncul SK Rektor berbeda, pak Rektor galau, mahasiswanya ikutan galau. Mungkin untuk memperbaiki sesuatu itu, memang harus dibuat chaos terlebih dahulu biar kelihatan mana yang harus diperbaiki dan mana yang sudah baik. Apa yang kacau? Tahun kemarin sistem KRS online, tahun sekarang? Lebih banyak lagi yang kacau.

Satu. Sistem Administrasi

Kejadian yang menimpa saya, cukup diambil hikmahnya dan diselesaikan secepatnya. “Salah Nulis” Itu yang pihak rektorat katakan. Coba tanya ke ribuan mahasiswa UIN yang pernah sidang Komprehensif, ketika ingin meminta surat keterangan lunas SPP menulis apa gitu di Al-Jami’ah, gak nulis apa-apa. Kalaupun saya harus bersumpah, saya bersumpah gak pernah menulis apa-apa. Dan kalaupun saya “Salah nulis” sekali lagi, enak banget jadi mahasiswa di sini, tidak perlu verifikasi berkas, bayar ke bank, untuk jadi wisudawan. Kalau cuma menulis saja bisa terdaftar jadi wisudawan, dan menyebabkan nama saya di/ter-hapus dari database kemahasiswaan, buat apa verifikasi berkas? Formalitas? Sudah kebayang gimana kacaunya sistem administrasi kampus ini?

Dua. Kekeluargaan banget.

Apakah saya harus jadi anak rektor atau saudara karo (Kepala Biro) Agar pas saya datang ke Al-Jami’ah gak dicuekin gitu?

Bulan Mei kemarin, saya sempat mengantar kenalan untuk melakukan verifikasi berkas. sebagaimana yang diumumkan di website resmi, kampus ini sedang membuka lowongan untuk dosen tetap. Kenalan saya itu, lulusan Pascasarjana UGM, IPK 3,8, Saya yakin 95% verifikasi berkas beliau akan lancar-lancar aja, waktu verfikasi berkas ternyata dipersulit banget. Saya nunggu hampir 45 menit. Orang lain yang melakun verifikasi berkas silih ganti keluar masuk, kenalan saya itu belum keluar juga. “Kok lama”, “Iya nih gak tahu dipersulit”. Setelah tes tulis, harusnya wawancara diumumkan seminggu kemudian, pengumuman lolos atau tidak diumumkan hanya beberapa hari setelahnya. Dan pengumuman ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

“Kalau buat tes tulis yakin lolos!”

“Ah enggak juga. Kampus ini kalau gak ada yang kenal di dalam ya susah!”

“Haha!”

“Kemarin waktu tes sempat ngobrol, kayaknya ini cuma formalitas”

“Iyah, emang. Kampus ini masih setengah-setengah. Di internal kampus pengumuman lowongan ini sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu, tahu dari teman yang jadi Laboran Kimia. Tapi di website baru diumumkan Rabu padahal pendaftaran ditutup hari Jum’at, mengumpulkan berkas kan gak cukup dua hari sebenarnya. Susah sebenarnya kalau orang luar ingin daftar. Ya, kita sama-sama tahu, gak usah dibahas lagi!”

Inti dari percakapan di atas: Kamu harus jadi anak rektor, biar gak dicuekkin. Udah gitu aja.

Tiga. SPP

For your info, Saya bayar uang SPP dari semester 1 – 6 Rp. 1.100.000 dari 7 – 10 Rp. 600.000. Tanpa uang UTS, UAS dan tambahan lainnya kecuali ikut Semester Pendek. Murah? Murah banget untuk ukuran Universitas yang punya gedung segede-gede gaban. Harusnya memasuki semester XI saya hanya bayar SPP Rp. 300.000. Namun tahun sekarang ada perubahan peraturan, jadi saya tetap membayar Rp. 600.000, walaupun saya mau Spp-an aja ditolak Bank. Bukan saya sok punya uang, Saya mah lagi tawakkal aja. Utamanya, masalah administrasi aja dulu yang selesai, masalah SPP harus bayar lagi mah biar Allah yang ganti. Toh masalah utama saya bukan di SPP, tapi lebih ke masalah administrasi – nama saya sudah tidak ada di database mahasiswa. Meskipun masalah SPP ini banyak yang protes dimana-mana.

Empat. Cuti Paksa

Dua minggu lalu waktu saya ke Al-jami’ah, saya bilang “Pak, saya mau SPP. Saya gak mau dianggap cuti karena telat”, pihak sana bilang “Kalau kamu gak sidang Agustus, udah aja bayarnya Agustus!”. Serius demi apa, saya gak nambah-nambahin atau ngurang-ngurangin apa kata Al-Jami’ah. Eh Kemarin banget, muncul Nota Dinas, paling telat 15 Juli harus bayar SPP. Gimana sih?. Ralat, 15 Juli batas akhir konfirmasi dari Fakultas ke rektorat tentang nama-nama mahasiswa yang telat bayar SPP, yang artinya kita gak tahu harusbayar SPP kapan. Sebelum SK ini muncul,  ada berita Mahasiswa akan dikenai cuti paksa jika tidak membayar SPP sampai waktu ditentukan. Di SK sih disebutnya Mahasiswa Lama, meskipun definisi konseptual dan defini operasional dari Mahasiswa Lama itu gak jelas. Apakah semua mahasiswa termasuk yang sudah tidak kuliah dan hanya mengerjakan skripsi, mahasiswa yang masih kuliah atau mahasiswa yang bagaimana? Jangan tanya status saya, sudah tahu status saya lagi gak jelas. Haha

Lima. Gelombang Protes

Kalau dibilang, mungkin saya lagi gak suka-gak sukanya sama kampus. Bete aja kalau ngebahas Al-Jami’ah. Dulu saya gak suka ada demo, mungkin sekarang kalau ada demo, saya dukung. Haha. Gelombang protes dimana-mana utamanya karena SK rektor ganti-ganti. Protes karena KRS online yang gangguan melulu, protes calon mahasiswa baru yang tidak bisa cetak kartu peserta karena server error dan serangkaian protes lainnya yang akan berlanjut sebelum masuk semester baru nanti. Kalau saya sih ingin nyanyi lagu Bunga “Ingin kumelampiaskan, namun ku hanya sendiri di sini, ingin kutunjukan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa”

Enam. Kecewa

Rasanya saya kaya yang suka sama orang bertahun-tahun, terus dikecewakan diakhir gini. Dulu ketika ada yang menjelek-jelekan kampus ini, saya marah, menjelaskan bahwa kampus ini sebenarnya blablabla gak seburuk yang dikira. Sekarang sih, ya bodo amat orang mau ngomong apa. Saya tidak pernah ada masalah apa-apa secara administrasi, selama proses kuliah, sampai terakhir Sidang Kompre dan Seminar Proposal, saya tidak pernah bermasalah dengan nilai mata kuliah, tidak ada masalah dengan TU, IPK saya cukup baik untuk ukuran anak Psikologi, tidak pernah protes apa-apa, apalagi ikut demo, nurut sama kebijakan Fakultas dan Universitas. Eh kenapa akhirnya saya diperlakukan gini?. Kalau ada yang nanya saya kuliah dimana, saya kuliah di Fakultas Psikologi, jangan nanya Universitasnya, lagi males bahas.

Tujuh. Awam

Kembali ke analogi awal, sampai hari ini saya cukup menahan diri untuk tidak berkomentar apa-apa tentang sistem administrasi, SK Rektor yang ganti-ganti, dan kebijakan SPP yang tiba-tiba naik tanpa sosialisasi. Saya cukup takut, jika saya terlalu banyak berkomentar, saya akan terlihat bodohnya, awamnya dan tidak mengerti apa-apa. Saya sih bisa bilang “Kan gampang saja tinggal masukan lagi nama Saya ke Database mahasiswa”, Tapi kan gak segampang itu kalau sistemnya sudah komputerisasi, apalagi harus diintegrasikan dengan sistem online Bank, kemudian dihubungkan dengan portal akademik. Tentang SK rektor saya tidak akan komentar apalagi Pak Rektor orang Tarbiyah. Tentang SPP, ah sudahlah.

Kita gampang banget ngebodoh-bodohin orang, bilang orang gak ada kerjanya, dan gak mikir kalau buat peraturan, tanpa kita tahu bahwa mereka lebih mengerti. Kita sering marah, ketika kita ngomel orang yang diomeli malah diam, tanpa kita tahu orang yang diomeli lebih faham dari kita. Toh, orang yang tahu dan orang yang tidak tahu ketika ngobrol itu tidak akan pernah nyambung. Mungkin waktu kita protes-protes ke Fakultas, ke Universitas, terus para atasannya malah diam, kita ngomel kok gak peduli banget sih? Tanpa kita tahu tong yang ada isinya itu tidak bisa berbunyi keras. Dan, kalaupun saya protes, pihak Al-Jami’ah diam mungkin saya gak tahu kalau mengembalikan nama saya ke database mahasiswa itu susah. Biarin aja urusan orang atas itu mah, tugas saya cuma satu, Skripsi.

Malam ini lagi random banget, over-thinking, gak jelas, gak bisa tidur. Ramadhan yang luar biasa

Nota Dinas SPP

Garut, 26 Ramadhan 1437 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s