Gagap Tekonologi, Lalai Aturan. Kapan Hijrah?

1

simak.uinsgd.ac.id

Sesuatu yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan itu sendiri – anonim.

LALAI ATURAN

Kejadian demo besar-besaran di Jakarta hari ini. Mengingatkan Saya kejadian beberapa minggu lalu yang menimpa saya dan kawan-kawan, yang semester sekian.

Reformasi besar-besaran yang dilakukan oleh pihak Universitas khususnya dalam pelayanan akademik menuntut mahasiswa untuk bersiap hijrah, berubah. Kenapa harus ada reformasi? Ya, karena manajemen di Universitas ini buruk. Ya, setidaknya untuk ukuran Universitas negeri. Kalau kamu ingin tahu bagaimana buruknya manajemen di Universitas ini, coba jawab pertanyaan Di Universitas negeri mana yang mahasiswa tidak bayar SPP selama empat semester bisa tetap kuliah?.

Rektor baru, aturan baru. Semua diubah, sistem informasi akademik dan pelayanan akademik yang dulunya manual sekarang menjadi online. Dulu mahasiswa masih bisa diberi toleransi ketika telat mengumpulkan KRS atau telat membayar SPP. Masih bisa protes-protes ingin seenak jidat jadwal kuliah diubah karena ternyata bentrok. Masih bisa menyalahkan TU ketika nama mahasiswa tidak ada di dalam absensi kelas.

Sekarang? Boro. Bayar SPP tanggal segitu, ya sudah tanggal segitu. Gak usah protes, jangan telat. Kalaupun memang terpaksa tidak bisa membayar SPP dalam kurung waktu yang ditentukan urusannya harus langsung dengan pihak rektorat. Mengisi KRS tanggal segitu, mau kebagian kelas mau enggak, mau bentrok, mau protes ya terserah. Aturannya sudah gitu, sistem komputer sudah dibuat sedemikian rupa. Ya sudah, jangan protes.

Ya, memang ketika reformasi besar-besaran apalagi yang melibatkan teknologi harus dibarengi dengan kesiapan manusia sebagai pengguna teknologi itu sendiri.

Kejadian yang fatal dari kami yang lalai aturan ini adalah; Kami dengan tenangnya tidak membayar SPP dalam kurung waktu yang ditentukan. Toh memang sudah tradisi -buruk- kalau semester akhir yang sudah sidang komprehensif, ke kampus cuma ketemu dosen pembimbing saja, -sengaja- melalaikan pembayaran SPP. “Ah nanti saja kalau mau sidang baru bayar”.

Celakanya adalah, sistem akademik online menganggap cuti alias non-aktif semua mahasiswa yang belum membayar SPP. Artinya tidak bisa mendapatkan pelayanan akademik, termasuk bimbingan skripsi. Jangan menyalahkan saya saja, ada 40 orang di fakultas saya yang mempunyai nasib sama. Jadi saya pernah merasakan menjadi mahasiswa non-aktif selama sebulan🙂

Menemui Kaprodi, Dekan, Pihak Akademik Universitas dan yeyeye lalala pejabat berkepentingan lainnya, demi apa? Ya demi status mahasiswa aktif dan bisa bimbingan skripsi, dan hasilnya…. nol.

“Memang kalian gak tahu aturan bayar SPP? Memang gak tahu jadwalnya? Ya bagaimana sistemnya sudah seperti itu”

Ya, memang salah kami, terus harus bagaimana? Akhirnya kami dapat dispensasi tetap bisa melakukan bimbingan skripsi, -Ya walaupun gak pernah bimbingan juga siii-.

Dan, ya, ketika ada perubahan-perubahan memang harus ada yang dikorbankan harus melalui tahap trial and error. Harus diuji dulu siap atau enggak. Saya khususnya, termasuk orang yang senang dengan perubahan ini. Tapiii seperti yang dikoar-koarkan pengemudi Taksi “Harus ada aturan dong”. Iya sih, saya juga merasa penerapan teknologi terutama yang dilakukan oleh Universitas saya tidak dibarengi dengan aturan-aturan yang mendukung. Belum ada alternatif jika terjadi kejadian A, B atau C. Seperti kata pak Ridwan Kamil, teknologi itu bisa memperburuk atau menghapus yang buruk. Kita pilih mana?

Merasa jadi korban? Ah enggak juga. Toh kami yang lalai aturan. Masa pengumuman pembayaran SPP sudah di broadcast dimana-mana, tetap saja lalai. Ingin protes? Gak juga sih. Perubahan itu nyata. Tinggal kitanya aja siap-siap.

HIJRAH

Ini jadi pelajaran aja sih, hari ini kita gak bisa bilang loh kan biasanya juga gini, sudah puluhan tahun gini. Gak bisa diubah. Perubahan itu pasti, dan kita gak bisa gini-gini aja. Harus melek teknologi, taat aturan. Harus hijrah😀

Penerapan teknologi juga diterapkan Fakultas saya. Informasi berbasis online, fakultas punya website. Semacan program smart city Ridwal Kamil gitu deh, yang ngeluh, yang punya saran semua ditampung online. Iya, website, dan saya tahu bagaimana rasanya menarik pengunjung ke website itu susah minta ampun, trafik like di Facebook tidak sebanding dengan trafik pengunjung ke website. Ya artinya jika kita share link hanya ada beberapa yang benar-benar datang mengunjungi website. Tapi, susah ya mengajak orang untuk melangkah. Saya harap sih website jadi sumber informasi pertama dan utama, toh beberapa situs ranking Universitas juga melihat website sebagai salah satu indikator. Punya website juga harus dibarengi dengan keterbiasaan menulis juga sih.

Kaprodi sudah koar-koar sana-sini agar mahasiswa dan dosen menyampaikan informasi lewat website tapi ya tetap saja kita susah ya keluar dari zona nyaman. Nyamannya begitu ya sudah. Ya sudah atuh kalau gitu mah kapan hijrah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s