Istri, Pembantu dan Kemampuan Mengatur Hidup*

*Dono Baswardono

Belakangan ini,
saya sering melihat meme (baca: mim) berupa tulisan yang bernada canda
tentang percakapan dua orang cowo mengenai calon istri masing-masing.
Apakah pacarnya bisa masak? Bisa setrika? Bisa bersih-bersih rumah?
Semuanya tidak karena dia mencari istri, bukan mencari pembantu. Pernah
baca candaan itu kan?
Dan ternyata tulisan itu kerap di-share
karena dianggap benar. Ya, saya sih setuju dengan pernyataan bahwa istri
bukan pembantu (dan sebaliknya).
Tetapi, mari kita menengok
realitas perkawinan. Tidak sedikit pasutri yang memulai rumah tangga
dengan kondisi ekonomi yang belum memungkinkan untuk memiliki pembantu.
Lalu siapa yang mesti memasak, menyetrika dan bersih-bersih rumah? Ya
mesti keduanya saling membantu.
Kalau pun mereka kemudian punya pembantu, tentu semua tugas-tugas kerumahtanggaan
itu perlu dikelola dan diatur dengan baik. Boleh saja tidak bisa
memasak, tetapi mengatur menu 10 harian? Boleh saja tidak bisa
menyetrika, tetapi pengetahuan soal kain apa bisa disetrika sepanas apa?

Dan suami mana (dan istri mana) yang tahan hidup dengan seseorang yang tidak mampu memenej kehidupan sehari-harinya?
Dan kalau kamar calon istri maupun calon suami berantakan karena tak
pernah diatur dan dibersihkan, mungkinkah ia bisa bekerja secara
metodis, mungkinkah jadwal hidupnya teratur? Dan bila ia sendiri tak
mampu mengatur hidupnya, bagaimana mungkin ia bisa membantu mengatur
kehidupan pasangannya dan anak-anaknya kelak?
Siapa yang tahan
hidup di rumah yang berantakan – bahkan jika dirinya sendiri juga
berantakan? Dan kalau pun tahan selama masih belum punya anak, apakah
keduanya tahan hidup tanpa menjaga kebersihan rumah ketika anak-anak
sudah lahir? Orangtua mana yang tak ingin menjaga kesehatan anaknya?
Bahkan bagi yang berpunya sekali pun, ia tentu punya harapan dan
standar minimal apa saja peran istrinya (suaminya) dalam tugas-tugas
rumah tangga.
Dan yang perlu difahami, harapan tersebut tidak statis, melainkan terus berubah sesuai dengan tahap-tahap perkawinan.
Candaan itu menggambarkan konsep yang keliru mengenai realitas rumah
tangga. Dan jika persepsi awal sudah keliru, maka kemungkinan mengalami
banyak masalah berupa konflik dengan pasangan akan jauh lebih besar.
Memang tak perlu mempersulit hal yang gampang, tetapi sikap
menggampangkan jauh lebih berisiko.
Sekali lagi, ini bukan soal
memasak, mencuci, menyetrika dan bersih-bersih rumah, tetapi soal
bagaimana mengatur kehidupan sendiri dan kehidupan bersama. Ini soal
berbagi peran. DB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s