Orangtua yang Tergesa-gesa

Beberapa minggu ke belakang memang saya menemukan anak-anak seperti ini. Kebetulan memang kerjaan saya gini, ikut beberapa biro untuk jadi tester pemeriksaan psikologis di beberapa sekolah. Bukan Universitas, SMA atau SMP, tapi SD. maklum Saya besar di Garut, di Kota kecil ini, psikotes paling lumrah digunakan minimal setingkat SMA.

Banyak calon siswa yang ingin masuk sekolah dengan standar ‘High’ di kota Bandung. Bayangkan saja anak 5 tahun, mau masuk SD, tesnya menulis, membaca latin dan arab, hafalan shalat ditambah psikotes. Psikotes saja rat-rata bisa satu setengah jam per anak, ditambah tes ini dan itu, untuk tes masuk sekolah SD saja harus meluangkan waktu 5 jam.

Soal umur, rata-rata saya menemukan anak 5 tahun, ada anak yang 6 tahun itu pun cuma beberapa. saya tanya temen saya “Memang standar masuk SD, 5 tahun?”, “enggak kok, 6 tahun” kata teman saya. saya cuma bisa bilang oh. Memang lagi ngtrend kali ya, orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak sedini mungkin. Ya, memang, anak-anak ini memang bukan anak abal-abal. Taraf kecerdasannya mayoritas berada di atas rata-rata, bahkan ada yang superior. Ditanya pakai bahasa Indonesia, dijawab pakai bahasa Inggris. Ketika dilihat datanya, oh pantas saja, TK-nya sudah bilingual. Kasus lin, pernh dapat anak “Hei, kok cepet banget ngisinya? Sudah pernah lihat tes gini?, “Iya, pernah bu, kemarin-kemarin? di xxxx?” “Terus kenapa daftar kesini lagi?” “Jaga-jaga kalau gak diterima di sana, nanti sekolah di sini” Alamak, anak SD saja sudah punya alternatif harus masuk SD mana, macam anak SMA pilih PTN saja. Nanti kalau gak masuk SD ini mama marah😀

Di SD lain, ini termasuk SD ‘high’ dengan pilihan kelas bilingual dan reguler. ketika sedang mengetes, saya curi dengar percakapan orangtua di luar

“Kenapa bu, gak masuk bilingual saja sekalian. Sayang kalau masuk reguler” *Padahal if U know kelas reguler aja pialanya bejibun banget*

“Ah, sayanya gak PD, kasian kalau masuk bilingual ntar dia tertinggal”

“Padahal gak apa-apa, nanti juga di bisa sendiri”

*Saya gak kebayang, kalau dulu saya belajar matematika pakai bahasa Inggris, jadinya gimana -_-

Masuk SD 5 tahun, keluar SD baru 11 / 12 tahun. Itu kalau SD normal. SAya pernah jadi tester di SD akselerasi, masuk SD 5 tahun, masuk SMP baru 10 / 11 tahun. Nanti SMP – SMA cuma 4 tahun karena akselerasi lagi. Pantas saja sekarang banyak anak yang baru 14 atau 15 tahun sudah jadi mahasiswa. Hei, kenapa begitu tergesa-gesa? Kasihan saja anak remaja harus gaul dengan orang dewasa.

Menurut data yang saya dapat sih selama jadi tester, memang anak-anak seperti ini lahir di keluarga kelas ekonomi ‘wah’, yang apa-apa sama bibi, apa-apa diantar sopir, bunda kerja, ayah kerja. Main sama nenek. Ya, mungkin, memang, di Kota sebesar Bandung, pendidikan bukan tentang kualitas saja, tapi juga tentang lifestyle. Anak saya harus jadi yang ter…

Orangtua yang Tergesa-gesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s