KATEGORI

Baru baca tulisan kang Fahd. Gak jadi soal sih, tentang tema tulisannya, gak fokus ke sana juga. Tentang kategori, jadi ingat kejadian Muhima dua tahun lalu. Kira-kira percakapan saya dengan teman saya gini..
Teman : Jadi siapa?
Saya : Siapa lagi, ya C dari golongan kita.
Teman : Golongan kita?
Saya : Iya, dari kita, netral.
Teman : Netral?hmm.
Di kampus saya, mahasiswa dibagi dua golongan, golongan aktifis organisasi dan mahasiswa yang katanya netral. Kami yang -merasa- diri netral, tidak memihak pada organisasi mana pun. Pada event tertentu,  kami memposisikan diri untuk tidak condong ke pihak manapun. Sehingga ketika ada orang nanya kami selalu bilang “Enggak, kita mah netral”. Sampai pada suatu hari kakak kelas Saya nanya “Netral? Emang netral apaan sih? Netral itu sama gak sih dengan gak punya sikap?”.

Kami punya sikap kok, sikap kami ya gak berpihak. Tapi, lain ceritanya jika…… Jika dalam satu event ada si A dari organisasi X, B dari organisasi Y dan C dari pihak netral. Siapa yang kami dukung? Tentu C.
Sampai teman saya bilang
“Jadinya ngedukung C?”
“Iya”
“Kenapa”
“Loh, kok kenapa? Dia kan netral gak masuk organisasi”
“Kalau pada akhirnya kita mendukung salah satu pihak, itu artinya gak netral”.

Salah kami adalah dari awal kita selalu mengatakan bahwa organisasi adalah sebuah kategori, dan tidak menyadari bahwa netral adalah kategori lain. Dan, ya, benar apa kata kang Fahd, ketika kita berusaha untuk keluar dari suatu kategori, maka kita akan masuk ke dalam kategori lain. Mengutip perkataan populer, bahkan, ketika pada akhirnya kita tidak memilih, itu adalah suatu pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s