langitkuitukamu:

Aku melihat langit siang waktu itu, duduk di depan ombak bersama semilir angin yang belakangan ini menjadi teman karibku.
Aku tersenyum simpul lalu melepas sandal.
Kemudian berteriak bersama angin, memanggil namamu, walau hanya dalam hati.
Bagaimana mungkin aku berani memberitahu namamu pada langit dan ombak? Sedang sejak awal aku telah sepakat hanya membagi cerita tentangmu pada angin.
Kau tahu? Sungguh aku terpingkal-pingkal menunggumu seperti ini.
Apa yang aku pikirkan? Menunggumu datang tanpa aku memberi tahumu? Jika benar begitu, maka tentulah aku begitu dungu tuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s