Mencari Jurnal Internasional Gratis Lewat DOI

Ceritanya, mencari jurnal biar kelihatan mahasiswa yang lagi ngerjain skripsinya, haha.

Terakhir edan-edanan cari jurnal pas kuliah Statistika 2, dosen memberikan tugas mencari jurnal Statistika, bahasa Inggris. Bayangin gais, Statistika, udah gitu pakai bahasa Inggris –_-, Saya belajar statistika pakai bahasa Indonesia aja harus ngulang dua kali. Nah, setelah itu, saya jarang mencari jurnal. Kecuali kalau lagi cari tahu sesuatu aja. Pas Metodologi Penelitian 3, mulai tuh cari-cari jurnal lagi. Dulu, paling saya cuma mengandalkan e-resources Perpusnas, itupun cuma ada beberapa yang bisa di-download selanjutnya cuma bisa download abstrak-abstraknya aja. Kata temen saya sih, di Perpusnas bisa download semuanya yang kita pengen, gak tahu deh kenapa saya kalau mau download cuma dapat abstraknya aja. Saya yang gaptek kali.

Baca lebih lanjut

Iklan

Instagram Stories

via Instagram http://ift.tt/2joLBND [PSYCHOLOGICAL FILM – A REVIEW]

Jug, akhirnya menyadari akar masalah Kiara. Bahwa trauma masa kecilnya lah yang membuat Kiara bersikap seperti itu terhadap laki-laki.
.
Di suatu pesta, saudara Kiara selalu membanding-bandingkan ia dan adiknya, bahwa adiknya manis, Kiara jutek. Adiknya penyabar, Kiara pemarah. Sampai ia tidak tahan dan meluapkan segala perasaannya. Dia berteriak terhadap orang tuanya, meluapkan rasa sakit ditinggalkan ketika usia 5 tahun, meluapkan kekecewaaan kenapa orang tuanya hanya menjudge bodoh ketika dia tidak naik kelas tanpa pernah bertanya akar masalahnya. [Ini scenes paling bikin nangis, btw]
.
Ya, gadis 24 tahun gak mungkin teriak-teriak sambil nangis histeris kalau beban dan sakit yang dia tanggung gak berat banget.
.
Selesai kejadian itu, dia konsultasi lagi dengan Jug (Psikolognya dia). Jug, cuma memberi tantangan agar Kiara berbincang dengan ayah dan ibunya masing-masing 10 menit.
.
Lucunya, ketika mencoba untuk ngobrol saja, paling lama Kiara hanya bisa ngobrol 5 menit dengan ayah-ibunya.
.
Sesi konseling selanjutnya Kiara diminta untuk melupakan dendam terhadap orang tuanya. Selama ini Kiara selalu marah ketika ibunya bertanya mau dimasakan apa. Kiara berpikir, masa seorang ibu gak tahu anaknya suka apa. Ibu macan apa? Kata dia
.
Sampai suatu hari Kiara meninggalkan mindset tersebut, dan menulis daftar makanan yang disukainya dan menaruhnya di dapur.
.
Lambat laun Kiara mulai melupakan dendam terhadap orang tuanya, dan berpikir bahwa tidak akan ada lagi orang yang akan mengkhianati perasaannya.
.
Kiara bangkit, menata hidupnya dengan orang tuanya. Kembali membuka hati dan tentu saja melupakan dendam.
.
Pelajaran dari film ini: Gila ya, trauma anak kecil yang berusia 5 tahun. Bisa berpengaruh besar di kehidupan seorang gadis ketika berusia 24 tahun. Kadang kita menyepelekan perasaan anak kecil. “Udahlah anak kecil, ntar juga pas gede dia lupa”.
.
Padahal bisa saja yang berpengaruh seumur hidup itu bukan kejadian ketika kita sudah dewasa, mungkin saja kejadian waktu kita SD waktu kita TK atau mungkin ketika dalam kandungan (Ini serius loh, ibu hamil yang depresi, sedih, stress, cemas, pemarah, dll bisa berpengaruh). #WP

Pengalaman Buruk Pakai Uber di Bandung

Halo, minggu kemarin saya melakukan trip dari daerah Cijawura Hotel Gothic dekat Uninus sampai ke Banjaran, waktu pergi saya membayar Rp. 46.000 dengan jarak tempuh 12 Km dan waktu tempuh satu jam lebih.

Ketika pulang saya berencana pakai transportasi online lain selain Uber, tapi ternyata di daerah kabupaten sulit sekali mendapatkan driver yang mau pickup kami. Akhirnya kami menggunakan Uber kembali, fare awal yang saya lihat saat itu Rp. 48.000.

Ketika memesan kami menunggu driver hampir satu jam. Ya kami pikir mungkin macet, dan kejadian yang tidak disangka pun terjadi 😂. Kronologinya seperti ini:

Baca lebih lanjut

Tes TOAFL & TOEFA di UIN Bandung

TOAFL & TOEFA baru jadi syarat kelulusan di UIN Bandung mulai tahun 2017. Di SK yang beredar di fakultas Psikologi tes ini jadi syarat wajib semua angkatan yang akan sidang. Termasuk angkatan 2009, 2010, 2011, 2012. Tapi saya nanya teman Saya angkatan 2011 anak Ushuluddin katanya mereka tidak diwajibkan TOEFA & TOAFL. Enak ya.

Jadi, untuk ikut tes ini kita daftar dahulu di lc.uinsgd.ac.id, isi data, lalu pilih tes yang mau diikuti, cetak kartu, nanti langsung bayar ke petugas di Language Center. Tidak harus ikut dua-duanya, bisa ikut satu tes dahulu. Jadwal tesnya sudah ditentukan TOEFA setiap hari Selasa jam 9 dan TOAFL setiap hari Jum’at jam 9. Enaknya, kalau tes di LC UIN, sistemnya sudah online. Computer based, bukan paper based, jadi setelah kita klik finish, skornya bisa langsung kita lihat, jadi gak perlu nunggu sertifikatnya buat tahu skor.

TOAFL (Test of Arabic as Foreign Language)

Saya ikut tes ini hari Jum’at. Soal tesnya terdiri dari listening, structure, reading (Saya gak tahu istilah bahasa Arabnya apa, lupa. Maafkan :))).
Jujur tes ini Saya tidak mempersiapkan apa-apa, ya buat apa? Gak ngerti juga harus belajar apa. Toh waktu belajar bahasa Arab semester 1 & 2, ya belajar dasar aja.

Baca lebih lanjut

Tidak Bisa Masak, Tidak Tahu Makanan Enak?

Beberapa hari yang lalu ketika saya makan, saya bilang “Ih, makanannya gak enak”. Teman yang dipinggir saya langsung merespon “Emang kamu bisa masak?”, “enggak” saya bilang. Lalu dia ngomong yang intinya “Ya kalau gak bisa masak, jangan bilang makanannya gak enak”. Hah, itu logika macam apa.

Hari ini, kita hidup di zaman yang ya sudah kalau kamu gak bisa, gak usah ikut komentar. Memang kalau saya gak bisa masak, lantas otomatis saya tidak tahu makanan enak? Kalau saya tidak bisa masak fried chicken, lantas saya tidak bisa bedakan mana ayam Saba**, mana ayam KF*? Ya enggak gitu atuh.

Baca lebih lanjut

Privasi Perempuan

 

Semenjak tahu kalau kita bisa download ratusan foto dari akun instagram sekaligus, semenjak tahu Jurnal Internasional Berbayar bisa di-download gratis begitu saja, semenjak tahu kalau kita bisa ngecopy-paste semua postingan blog Tumblr seseorang tanpa susah payah. Saya sudah tidak mengerti kata Privasi itu dimana.

Saya merasa tidak pernah melakukan hal illegal, kecuali menggunakan situs gen.lib.rus.ec yang memang bikin muak semua penerbit jurnal internasional. Pernah dosen saya cerita beli jurnal sampai dua juta. Yah, uang segitu mah bisa buat ngasih makan OP praktikum dari Psikodiagnostika I sampai 6 :D. Ya ilegal tapi selama gak diblok sama Menkominfo mah buka Saya yang salah, masa situs berguna bagi nusa dan bangsa mau diblok? Hidup mahasiswa!

Ketika saya punya trik ngesave halaman website buat download gambar. Itu legal kok, toh kita bisa ngesave halaman apa saja yang kita ingin. Default semua browser juga gitu mau Opera, Firefox, Chrome, etc. Tidak pakai aplikasi pihak ketiga. Kita sama tahu kalu dalam satu halaman website berformat html itu terdapat berbagai file, yang formatnya beda-beda pula, di dalamnya sering terdapat gambar nah gambar ini yang ikut tersimpan ketika kita nge-save halaman website. Coba aja, ketika file html yang kita save dihapus, foldernya akan ikut terhapus.

Dear, perempuan yang merasa aman-aman aja ketika foto profilnya dikunci, merasa tidak ada yang bisa ngambil fotonya. Ai kamu gak tahu kalau tinggal klik kanan, klik ‘lihat informasi halaman’, lalu klik ‘media’, terus kita bisa download foto kamu walau terkunci.

Baca lebih lanjut

Purgatory, Anggi Umbara, dan Subliminal Messages

Pertama tahu band ini, pas nonton Mama Cake di Televisi. Tahu film ini? itu loh yang cuplikan ngedadak viral karena emang keren banget, sayangnya di televisi adegan ini di-cut. Cuplikan dimana salah satu tokoh menjelaskan filosofi gerakan shalat, dan jatuh cinta banget lah sama dialog itu. Habis nonton langsung searching, dan muncul lah nama Anggi Umbara sebagai sutradara film ini.

Tahu nama Anggi pas seorang teman sedang menyusun proposal penelitian. Dulu dia ingin meneliti Subliminal Messages yang kebetulan pas lagi kepikiran topik itu banget, dia ikut acara bedah film 3 – Alif Lam Mim. Ada yang pernah nonton film ini juga? Ini film keren, dakwah gak harus melulu di mimbar. Menceritakan Indonesia tahun 2030, dikuasai liberalisme. Pesantren dituduh sarang teroris, “Mi kata Anggi di film ini ada subliminal messagesnya” Kata dia.

Anggi Umbara kalau bikin film emang gini melulu ya genrenya? Ada penyampaian-penyampaian pesan dengan plot cerita yang jenius, karena saya gak kepikiran bikin film kayak gitu :D. Terus saya penasaran sama penampakan Anggi Umbara dan alamak gak kewajahan banget ini mah bikin film keren gitu, haha. muncul juga artikel tentang Coboy Junior The Movie yang kata penulisnya di film ini Anggi masih menyisipkan pesan-pesan baik lewat dialog, dan belakangan juga baru tahu kalau Anggi itu emang aktivis #indonesiatanpaJIL.

Kemudian searching terus tentang Anggi Umbara, dan fakta lain menyebutkan Anggi ini seorang DJ yang beberapa tahun terakhir bergabung dengan salah satu band metal, ntah death metal, black metal atau apa, saya gak ngerti, gitu lah ya, sejenis band yang berisik banget. Dan kebayang mengajak kebaikan dengan musik metal? Itulah yang dilakukan Purgatory, bahkan salah satu lagunya MOGSAW Messenger of God Shalallohu Alaihi Wassalam, menceritakan tentang Rasululloh. Aneh sih. Coba deh baca ini.  Btw, salah satu soundtrack film 3 itu juga kan lagu Purgatory.

Di balik itu semua, dari mulai Anggi yang anggota Purgatory yang beraliran metal tapi lagunya bercerita tentang Rosul, perah Uhud, Badar, terinspirasi dari salah satu ayat Al-qur’an. Kemudian film-film yang disutradarainya yang katakanlah menyampaikan pesan kebaikan kalau tidak mau ini disebut film dakwah. Menurut saya pesan-pesan tersembunyi seperti ini, yang disisipkan di film, musik, merupakan konsep subliminal messages yang cetar membahana, yang baru saya tahu cuma anggi aja yang begini.

Kalau masih gak ngerti subliminal messages, contohnya gerakan freemason, kan menyusup ke hidup kita dengan pesan-pesan tersembunyi ala subliminal messages. Biasanya orang-orang yang kerja di bidang advertising, atau marketing atau yang lagi kampanye ngerti banget hal beginian.

Tapi, cerdasnya Anggi, dia tahu konsep ini untuk menyampaikan kebaikan lewat film, musik, dialog. Kan dakwah gak harus melulu di mimbar, meskipun pada akhirnya vokalis Purgatory sendiri meninggalkan musik, karena punya faham musik itu haram dan Purgatory melanggar syariat.

Kampus Ini Sedang Diimunisasi

Di depan televisi, Saya dan beberapa orang keluarga, nonton berita. Mungkin sedang ngetren anak di bawah 17 tahun sudah jadi Mahasiswa. Jurusannya tidak main-main, Kedokteran, Teknik, dlsb di Universitas ternama. Di Televisi si ibu berbicara ‘Dulu anak saya sulit sekali ketika ingin melanjutkan sekolah ke jenjang di atasnya, terkendala peraturan usia yang ditetapkan pemerintah. Padahal walaupun usianya masih kecil, kemampuannya di atas anak-anak sebaya’.  Orang-orang yang menonton televisi mulai berkomentar, Saya hanya mengangguk-angguk  tanda menyetujui peraturan pemerintah. Toh perkembangan IQ tidak selalu berbanding lurus dengan EQ. Saya yang kuliahnya fokus kekanak-kanakan memang sering banget membahas milestones pekembangan anak mulai dari fisik, psikis, emosi. Ya, wajar saja pemerintah membuat peraturan batas usia. Kasihan saja, anak Usia kelas 1 SMA gaulnya sama anak usia semester satu kuliah *IMHO. Lalu orang-orang di sekitar saya mulai berceloteh ‘bego banget sih pemerintah, gitu sih Indonesia mah, Ya gimana bisa maju di negara ini, anak pintar dihalang-halangi sekolah, Pemerintah itu ya, bikin peraturan gak mikir, dan blablabla’. Saya cuma melongo dengar orang ngebego-begoin pemerintah, bilang yang bikin peraturan gak mikir, gak punya otak. What a…. Saya sih masih sabar di situ, saya tahu dan mereka gak tahu kalau sekolah itu bukan hanya tentang IQ, bukan hanya tentang bisa mengerjakan soal, tapi tentang segala aspek yang dibahas di Psikologi Perkembangan, di Pedologi, di DDTKA, di Psikologi Pendidikan, yang kalau dijabarkan gak cukup kuliah satu semester. Mereka gak tahu, mungkin yang merumuskan peraturan ini adalah Psikolog, praktisi pendidikan, konselor yang ilmunya jauh di atas mereka dan juga saya. Terus kita sok tahu gitu ngebego-begoin peraturan yang mereka bikin, merasa kita paling bisa dan tahu konsekuensinya?

Dari situ saya mikir, mungkin juga saya sering jadi bagian dari mereka yang kalau ada peraturan yang gak sreg langsung ngebego-begoin, bilang gak becus, gak mikir. Tanpa banyak baca, banyak tahu, klarifikasi. Duh, mungkin benar semakin kita awam, semakin kita banyak komentar.

cuti

Saya gak nyangka aja di usia Saya yang ke-20 lebih sekian, urusannya masih ecek-ecek. Gentayangan di kampus, gak jelas. Setelah kasus “Salah nulis” Berlarut-larut dengan kalimat “Ntar aja neng!”, “Besok aja neng”, “Bapak ininya gak ada!” semakin saya mengerti kenapa di kampus ini sering banget ada yang demo. Fyi, saya bukan anak organisasi ekstra manapun, dan saya juga bukan anak UKM atau UKK manapun, makanya dulu saya paling gak suka kalau ada yang demo di kampus, berisik, sok heroik banget saya bilang. Saking gak sukanya Saya pernah dikasih selebaran sama teteh yang lagi aksi, saya robek kertasnya di depan si teteh sambil melipir pergi, terus si tetehnya ngomel gak jelas. Haha.